FISIP-Psikologi S-1
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DAN OPTIMISME DENGAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR UNIVERSITAS ISLAM "45" BEKASI
Pada perguruan tinggi terdapat mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir atau biasa disebut sebagai mahasiswa tingkat akhir dan banyak mengalami berbagai tekanan. Munculnya stres dan depresi karena tekanan dalam diri mahasiswa tingkat akhir akan menurunkan tingkat subjective well-being. Subjective well-being dipengaruhi juga oleh harga diri. Sebab jika memiliki subjective wellbeing dan harga diri yang positif akan mampu mengatasi permasalahan hidup dengan baik. Subjective well-being diketahui memiliki faktor lain yakni salah satunya optimisme. Individu yang optimis diketahui memiliki kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi karena memiliki keyakinan diri mampu bangkit dari permasalahan yang dihadapi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara harga diri dan optimisme dengan subjective well-being.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional dengan teknik non probability quota sampling. Subjek terdiri atas 303 mahasiswa tingkat akhir. Data dikumpulkan melalui wawancara dan skala psikologi yang mencakup variabel harga diri, optimisme, dan subjective well-being yang menggunakan model skala likert. Uji reliabilitas instrumen menggunakan analisis Cronbach’s Alpha pada software SPSS versi 26 for windows menghasilkan ralpha = 0,967 (harga diri), nilai ralpha = 0,957 (optimisme) dan nilai ralpha = 0,970 (subjective well-being). Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif. Uji korelasi Rank Spearman dan uji regresi linear berganda digunakan untuk menguji hipotesis.
Hipotesis pertama ditemukan hubungan yang signifikan antara harga diri dengan subjective well-being (r = 0,456, p = 0,000 (p
Tidak tersedia versi lain